OJK Support Kinerja Bank of India Tbk

Tak bisa dipungkiri dampak dari kasus kejahatan perbankan modus baru yang dialam oleh Bank of India Tbk (BOI) belum lama ini, telah menjadikan bank swasta nasional itu terseok bangkit memulihkan semua kerwajibannya terhadap komitmen kerja membantu bisnis kalangan nasabahnya.

Sebelumnya BOI mengalami kerugian Rp 18 miliar akibat pembobolan yang dilakukan mantan Kepala Cabang Setia Budi Jakarta, Muhammad Yunan berserta sejumlah anggota komplotan sindikat kejahatan perbankan yang kini perkaranya sedang ditangani pihak Kejati DKI Jakarta.

Hal ini menjadikan salahsaru faktor penyebab melorotnya kekuatan modal finasial BOI, sehingga laporan keuangan pada year to date (ytd) Juni 2016 mengalami penurunan, dimana total ekuitas Bank of India Rp 625,22 miliar. Secara year to date (ytd) susut signifikan, karena perseroan memiliki ekuitas sebesar Rp 1,11 triliun pada Desember 2015.
Pada akhir paruh pertama 2016, Bank of India juga membukukan rugi sebesar Rp 489,44 miliar, lebih tinggi dibanding rugi yang ditanggung pada akhir 2015 sebesar Rp 44,69 miliar.

Di samping itu, data keuangan bank swasta nasional ini menunjukkan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross secara year to date dari 8,90% menjadi 26,24%. Sementara NPL net Bank of India di level 4,96% pada Juni 2016.
Sementara itu, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perseroan mencapai 315,38% dan capital adequacy ratio (CAR) susut dari 23,85% menjadi 16,60% pada semester I-2016.
Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pemegang saham PT Bank of India Indonesia Tbk harus berkomitmen secara berkelanjutan untuk menambah modal bank swasta nasional tersebut. Pasalnya, modal tersebut diharapkan dapat menjadi bantuan bagi Bank of India dalam hal memperbaiki kinerja.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, Bank of India sudah meraih tambahan modal dari pemegang saham (stakeholder). Tambahan modal tersebut dinilai sudah mencukupi untuk membantu perbaikan kinerja.

 "Ke depan, jika perlu lagi kami akan paksa mereka (pemegang saham) untuk suntik modal lagi. Itu modal tambahan lanjutan," kata Nelson Rabu (12/10) di Jakarta.

Loading...