Koran Kejujuran, Ambil Sendiri, Bayar Sendiri

Sebuah lapak koran yang berada di depan Depot jamu Cik Tien Jl Tunggorono, Ungaran, Kabupaten Semarang ini tergolong unik. Para pembeli mengambil sendiri koran yang dikehendaki, sedangkan uang pembayarannya tinggal dimasukkan kedalam wadah yang sudah disediakan.

Koran-koran yang dijual sudah tertata rapi di sebuah rak berwarna biru. Pada dinding rak tertulis "Koran Kejujuran, ambil sendiri, bayar sendiri dengan uang pas".

Kata-kata yang ditulis dengan huruf kapital dengan spidol berwarna hitam itu sudah mulai samar-samar terlihat. Lalu pada bagian kiri atas rak tersebut tertulis nama-nama surat kabar berikut daftar harganya.

Pada sisi kanan atas rak kembali dipertegas dengan kata-kata "Anda pasti jujur-uang masuk kotak".

Kotak yang dimaksud adalah bekas botol air kemasan yang dipotong separuh dan dipaku di bagian kiri dari rak tersebut.

"Yang punya namanya pak Andi, sering dipanggil Ambon atau Andi Ambon. Jam segini biasanya masih mengantar koran ke rumah pelanggan," kata Geger (59) seorang juru parkir di depan Depot Jamu Jago Cik Tien.

Geger mengaku tidak tahu secara persis sejak kapan Andi membuka lapak "Koran Kejujuran" ini. Bagi masyarakat yang kerap beraktivitas di Pasar Bandarjo, sudah mafhum dengan cara menjual koran ala Andi ini.

Menurut Geger, koran kejujuran ini memang benar-benar menguji kejujuran pembelinya. Karena ada saja pembeli yang nakal, yang tidak mau membayar.

"Pernah ada orang turun dari mobil sedan, ambil koran lalu menaruh uang Rp 1.500. Padahal harga korannya waktu itu Rp 2.500, karena saya tahu saya kejar orangnya," ucap dia.

Geger mengaku tidak bisa setiap saat mengawasi aktivitas para pembeli "koran kejujuran" ini lantaran dirinya sibuk mengatur parkir sepeda motor pengunjung pasar. Pun, si pemilik lapak, Andi Ambon juga tak pernah memintanya ikut mengawasi koran dagangannya.

"Pas saya lihat sendiri, pasti saya tegur. Kadang ada juga yang pura-pura baca-baca korannya dulu, setelah itu dibawa begitu saja tanpa membayar," imbuh Geger.

Sekitar pukul 07.00 WIB seorang pria berperawakan tambun turun dari ojek dengan membawa segepok koran dan beberapa tabloid. Geger lalu memberitakukan bahwa pria yang memakai kaos dan topi berwarna kuning tersebut adalah Andi Ambon.

Saat Kompas.com menyapanya, pria itu tersenyum ramah. "Nama saya Surdalis, tapi orang memanggil saya Andi Ambon. Dipanggil Ambon karena saya hitam, padahal saya aslinya dari Padang," kata Surdalis.

Pria kelahiran Sawah Lunto, 58 tahun lalu itu mengaku sudah berjualan koran di Ungaran sejak tahun 2000. Ia tinggal sebuah rumah kontrakan di kawasan Dliwang, Ungaran Barat bersama istrinya.

Ide membuka lapak "Koran Kejujuran" ini, jelas Surdalis baru dilakukannya sejak dua tahun yang lalu. Saat itu dirinya bingung lantaran disaat ia berkeliling menjajakan koran di pasar Bandarjo, ternyata banyak pembeli yang menunggunya di tempat ia mangkal di depan depot jamu Cik Tien.
"Tumpukan koran memang saya taruh di bangku di depan toko jamu Cik Tien, sementara saya keliling. Pembeli yang kelamaan nunggu, akhirnya tidak jadi beli," ujarnya.

Sudarlis menyadari keputusannya membuka lapak koran kejujuran ini berpotensi merugi. Ia tak menampik pernah kehilangan uang, atau ada orang yang mengambil koran tapi tidak membayar. Namun ia meyakini bahwa masih banyak warga kota Ungaran yang jujur ketimbang yang tidak jujur.

"Percaya masih banyak yang jujur, kalau hilang satu atau dua koran saya anggap masih wajar. Saya ikhlaskan saja," tandasnya.

Pekerjaan sebagai loper koran menurut Andi Ambon sebenarnya bukan pekerjaan yang menguntungkan secara finansial. Sebab sumber informasi saat ini tidak hanya dari koran, sehingga orang yang membeli koran semakin sedikit.

"Cukup tidak cukup, ya di cukup-cukupin," ucapnya.

Sejak subuh buta, Ambon memulai aktivitasnya. Ia berjalan kaki dari rumahnya menuju kawasan Sebantengan untuk mengambil koran dari agen. Setelah itu kembali ia berjalan kaki menuju pasar Bandarjo yang jaraknya mencapai satu kilometer.

"Kadang-kadang saja saya ngojek. Suatu saat pengennya punya motor sendiri, biar memudahkan pekerjaan saya," pungkas Ambon.
Loading...