Seharusnya SBY Jadi Penyejuk, Bukan Malah Agitasi Publik

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Charles Honoris menilai, pernyataan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait proses hukum calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah bentuk intervensi terhadap proses hukum. Pihak kepolisian saat ini sedang menjalankan proses hukum terhadap laporan terkait Ahok.
“Bahkan pak Ahok sudah dimintai keterangan di Bareskrim. Jadi klaim SBY bahwa Ahok tidak tersentuh itu tidak berdasar dan bisa dilihat sebagai upaya melakukan intervensi dengan melakukan agitasi di ruang publik,” ujar Charles di Jakarta, Kamis (3/11).
Sebagai tokoh politik yang pernah menjabat sebagai presiden, kata Charles, SBY harusnya berdiri di atas semua golongan dan menjadi penyejuk.
“Statemen SBY pagi ini terkait rencana aksi 4 November semakin menunjukkan bahwa SBY sedang berupaya menggunakan aksi ini untuk kepentingan Pilgub DKI yang kita ketahui putra sulung SBY ikut menjadi calon gubernur DKI,” katanya.
Hal itu, kata dia, bertolak belakang dengan apa yang sedang berupaya dibangun oleh Prabowo dan Presiden Joko Widodo. Presiden Jokowi dan Prabowo adalah negarawan sejati, tambah Charles.
“Bahkan saya sepakat dengan apa yang disampaikan rekan saya bang Ruhut kemarin bahwa pak Jokowi dan pak Prabowo adalah demokrat sejati,” katanya.
Menurutnya, berbeda halnya dengan SBY yang melakukan roadshow politik melalui pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertemuan tersebut ternyata hanyalah pencitraan dan frame-nya lebih ke klarifikasi personal.
“Meskipun akhirnya itu terbantahkan sendiri dengan pernyataan SBY hari ini. Kalau boleh jujur, program BLT (bantuang langsung tunai) SBY-lah mendegradasi mental rakyat indonesia menjadi pragmatis dan transaksional, melupakan akar sejarah budaya bangsa kita yang berpegang pada gotong royong,” katanya.
Anggota Komisi I itu menyatakan, Indonesia bukan hanya Jakarta, sehingga janganlah para tokoh nasional menghalalkan segala cara untuk memenangkan pilkada di Jakarta dengan merusak sendi persatuan dan kesatuan bangsa.
Loading...