Akhir Jejak Komplotan Perampok Toko Emas yang Tembak Mati 2 Penjaga


Sekomplotan perampok menggasak Toko Emas Arrafah di Banjarmasin. Selain menggasak puluhan kg emas, dua orang penjaga toko tewas diterjang timah panas. Bagaimana akhirnya?

Kasus bermula saat Nor Samsul Bahri (42), Hartono (44), Sadewa (28) berencana merampok toko emas di Pasar Kaliando yang berada di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin. Untuk memuluskan aksinya maka dicari begal lainnya untuk mau bergabung yaitu Arif Gunawan, Andrei, Asmuri dan Cuplis.

Setelah diperhitungkan masak-masak, dipilihlah tanggal aksi yaitu pada 28 Juni 2014 pagi, saat toko emas baru buka. Strategi pertama yaitu Andrei membeli sepeda onthel dan pura-pura bersepeda di areal pasar. Padahal tujuan utamanya mengintai toko emas yang akan jadi target.

Setelah mengintai toko emas dan melihat toko baru buka, Andrei mengirimkan SMS ke komplotan lainnya memberitahu kondisi toko. Mendapat info itu, komplotan lainnya lalu bergerak dengan mengendarai sepeda motor. Untuk membuat alibi, sepeda motor itu dititipkan sebelumnya di sebuah areal parkir rumah sakit.

Sesampainya di toko, mereka bergerak masuk dengan pembagian tugas tiga orang masuk dan tiga orang lain memantau di luar. Tiga orang yang masuk langsung mendongkan pistol ke penjaga toko. Sejurus kemudian, perampok menjarah:

1. Uang tunai Rp 160 juta.
2. Emas batangan 7 kg .
3. Emas batangan 10 kg.
4. Emas batangan sebanyak 5,5 kg.

Setelah berhasil menggasak, mereka langsung ambil langkah seribu. Tapi penjaga toko melakukan perlawanan. Dor! Dor!

Empat orang tertembus peluru yaitu Salimin, Umi Hani, Abdilah dan Ifansyah. Warga yang melihat kejadian itu langsung ikut melakukan perlawanan sehingga pelaku memilih lari tunggang langgang. Sayang, nyawa Salimin dan Umi tak tertolong dan meninggal dunia di lokasi.

Atas kejadian itu aparat kepolisian mengejar para pelaku dan berhasil membekuknya. Komplotan itu diadili dengan berkas terpisah.

Paket pertama yaitu Nor Samsul Bahri, Hartono, Sadewa. Ketiganya dituntut penjara seumur hidup.

Pada 23 April 2015, Pengadilan Negeri Banjarmasin menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada ketiganya. Putusan itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banjarmasin. Atas hukuman itu, Hartono dan Sadewa tidak terima dan mengajukan banding. Apa kata MA?

"Menolak permohonan kasaso Hatono dan Sadewa," kata majelis sebagaimana dilansir website MA, Rabu (21/12/2016).

Duduk sebagai ketua majelis Sofyan Sitompul dengan anggota Desnayeti dan Sumardjiatmo. Majelis menyatakan ketiganya terbukti bersalah melanggar pasal 339 KUHP tentang pembunuhan yang didahului dengan tindak pidana lain secara bersama-sama. Vonis itu diketok dengan suara bulat pada 19 November 2015.

detik.com
Loading...